Tampilkan postingan dengan label Mualaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mualaf. Tampilkan semua postingan

keluar dari Metro TV, ini Kisah Sandrina Malakiano, Ketika Hijab Lebih Utama ketimbang Pekerjaan




KISAH berikut mungkin sudah lama, usang, dan kabur dimakan usia. Namun untuk sebuah hikmah dan pelajaran, tidaklah ada yang tua, kolot dan rapuh. Semua membarukan diri kedalam masa itu sendiri.

SEJAK memutuskan untuk berjilbab, sosok Sandrina Malakiano tak lagi membawakan berita, Ia menghilang. Metro TV tempat ia bekerja dikecam karena melarang Sandrina Malakiano mengenakan jilbab pada saat siaran, meskipun Sandrina sudah memperjuangkannya selama berbulan-bulan dengan mengajak jajaran pimpinan level atas Metro TV berdiskusi panjang. Larangan inilah menjadi alasan Sandrina untuk keluar dari Metro TV.

Setiap kali sebuah musibah datang, maka sangat boleh jadi di belakangnya sesungguhnya menguntit berkah yang belum kelihatan.

Saya sendiri yakin bahwa ” sebagaimana Islam mengajarkan ” di balik kebaikan boleh jadi tersembunyi keburukan dan di balik keburukan boleh jadi tersembunyi kebaikan.

Saya sendiri membuktikan itu dalam kaitan dengan keputusan memakai hijab sejak pulang berhaji di awal 2006. Segera setelah keputusan itu saya buat, sesuai dugaan, ujian pertama datang dari tempat saya bekerja, Metro TV.

Sekalipun tanpa dilandasi aturan tertulis, saya tidak diperkenankan untuk siaran karena berjilbab. Pimpinan Metro TV sebetulnya sudah mengijinkan saya siaran dengan jilbab asalkan di luar studio, setelah berbulan-bulan saya memperjuangkan izinnya. Tapi, mereka yang mengelola langsung beragam tayangan di Metro TV menghambat saya di tingkat yang lebih operasional. Akhirnya, setelah enam bulan saya berjuang, bernegosiasi, dan mengajak diskusi panjang sejumlah orang dalam jajaran pimpinan level atas dan tengah di Metro TV, saya merasa pintu memang sudah ditutup.

Sementara itu, sebagai penyiar utama saya mendapatkan gaji yang tinggi. Untuk menghindari fitnah sebagai orang yang makan gaji buta, akhirnya saya memutuskan untuk cuti di luar tanggungan selama proses negosiasi berlangsung. Maka, selama enam bulan saya tak memperoleh penghasilan, tapi dengan status yang tetap terikat pada institusi Metro TV.

Setelah berlama-lama dalam posisi yang tak jelas dan tak melihat ada sinar di ujung lorong yang gelap, akhirnya saya mengundurkan diri. Pengunduran diri ini adalah sebuah keputusan besar yang mesti saya buat. Saya amat mencintai pekerjaan saya sebagai reporter dan presenter berita serta kemudian sebagai anchor di televisi. Saya sudah menggeluti pekerjaan yang amat saya cintai ini sejak di TVRI Denpasar, ANTV, sebagai freelance untuk sejumlah jaringan TV internasional, TVRI Pusat, dan kemudian Metro TV selama 15 tahun, ketika saya kehilangan pekerjaan itu. Maka, ini adalah sebuah musibah besar bagi saya.

Tetapi, dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan memberi saya yang terbaik dan bahwa dunia tak selebar daun Metro TV, saya bergeming dengan keputusan itu. Saya yakin di balik musibah itu, saya akan mendapat berkah dari-Nya.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi-1n1wdL2sC3cjgs9o5weOEgnliciu5h50z_JVzUyF4-Npddh5uzVBQQ7WzUuNDgiu5cE7XoK2bn-wHeyZL9edNcbquMFpce4BkofZBiGcfVeefClQ5Z_3gxWyZgqIzvca8cAzVsHWodY/s1600/sandrina.jpg

Hikmah Berjilbab

Benar saja. Sekitar satu tahun setelah saya mundur dari Metro TV, ibu saya terkena radang pankreas akut dan mesti dirawat intensif di rumah sakit. Saya tak bisa membayangkan, jika saja saya masih aktif di Metro TV, bagaimana mungkin saya bisa mendampingi Ibu selama 47 hari di rumah sakit hingga Allah memanggilnya pulang pada 28 Mei 2007 itu.

Bagaimana mungkin saya bisa menemaninya selama 28 hari di ruang rawat inap biasa, menungguinya di luar ruang operasi besar serta dua hari di ruang ICU, dan kemudian 17 hari di ruang ICCU?

Hikmah lain yang saya sungguh syukuri adalah karena berjilbab saya mendapat kesempatan untuk mempelajari Islam secara lebih baik. Kesempatan ini datang antara lain melalui beragam acara bercorak keagamaan yang saya asuh di beberapa stasiun TV. Metro TV sendiri memberi saya kesempatan sebagai tenaga kontrak untuk menjadi host dalam acara pamer cakap (talkshow) selama bulan Ramadhan.

Karena itulah, saya beroleh kesempatan untuk menjadi teman dialog para profesor di acara Ensiklopedi Al Quran selama Ramadhan tahun lalu, misalnya. Saya pun mendapatkan banyak sekali pelajaran dan pemahaman baru tentang agama dan keberagamaan. Islam tampil makin atraktif, dalam bentuknya yang tak bisa saya bayangkan sebelumnya. Saya bertemu Islam yang hanif, membebaskan, toleran, memanusiakan manusia, mengagungkan ibu dan kaum perempuan, penuh penghargaan terhadap kemajemukan, dan melindungi minoritas.

Saya sama sekali tak merasa bahwa saya sudah berislam secara baik dan mendalam. Tidak sama sekali. Berjilbab pun, perlu saya tegaskan, bukanlah sebuah proklamasi tentang kesempurnaan beragama atau tentang kesucian. Berjibab adalah upaya yang amat personal untuk memilih kenyamanan hidup.

Berjilbab adalah sebuah perangkat untuk memperbaiki diri tanpa perlu mempublikasikan segenap kebaikan itu pada orang lain. Berjilbab pada akhirnya adalah sebuah pilihan personal. Saya menghormati pilihan personal orang lain untuk tidak berjilbab atau bahkan untuk berpakaian seminim yang ia mau atas nama kenyamanan personal mereka. Tapi, karena sebab itu, wajar saja jika saya menuntut penghormatan serupa dari siapapun atas pilihan saya menggunakan jilbab.

Hikmah lainnya adalah saya menjadi tahu bahwa fundamentalisme bisa tumbuh di mana saja. Ia bisa tumbuh kuat di kalangan yang disebut puritan. Ia juga ternyata bisa berkembang di kalangan yang mengaku dirinya liberal dalam berislam.

Tak lama setelah berjilbab, di tengah proses bernegosiasi dengan Metro TV, saya menemani suami untuk bertemu dengan Profesor William Liddle ” seseorang yang senantiasa kami perlakukan penuh hormat sebagai sahabat, mentor, bahkan kadang-kadang orang tua ” di sebuah lembaga nirlaba. Di sana kami juga bertemu dengan sejumlah teman, yang dikenali publik sebagai tokoh-tokoh liberal dalam berislam.
Saya terkejut mendengar komentar-komentar mereka tentang keputusan saya berjilbab. Dengan nada sedikit melecehkan, mereka memberikan sejumlah komentar buruk, sambil seolah-olah membenarkan keputusan Metro TV untuk melarang saya siaran karena berjilbab. Salah satu komentar mereka yang masih lekat dalam ingatan saya adalah, Kamu tersesat. Semoga segera kembali ke jalan yang benar.

Saya sungguh terkejut karena sikap mereka bertentangan secara diametral dengan gagasan-gagasan yang konon mereka perjuangkan, yaitu pembebasan manusia dan penghargaan hak-hak dasar setiap orang di tengah kemajemukan.

Bagaimana mungkin mereka tak faham bahwa berjilbab adalah hak yang dimiliki oleh setiap perempuan yang memutuskan memakainya? Bagaimana mereka tak mengerti bahwa jika sebuah stasiun TV membolehkan perempuan berpakaian minim untuk tampil atas alasan hak asasi, mereka juga semestinya membolehkan seorang perempuan berjilbab untuk memperoleh hak setara? Bagaimana mungkin mereka memiliki pikiran bahwa dengan kepala yang ditutupi jilbab maka kecerdasan seorang perempuan langsung meredup dan otaknya mengkeret mengecil?

Bersama suami, saya kemudian menyimpulkan bahwa fundamentalisme “mungkin dalam bentuknya yang lebih berbahaya” ternyata bisa bersemayam di kepala orang-orang yang mengaku liberal. [rf/Islampos]
Catatan: Pada Mei 2006, keputusan yang sulit pun akhirnya ia ambil. Sandrina resmi keluar dari stasiun televisi tersebut.


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

KISAH NYATA : Masuk Islam, Wanita Italia Ini Akhirnya Dinikahi Dzulfikar, Bagaimana Kisahnya ?




  Yes  Muslim  - Pemuda Batang, Dzulfikar (23), yang menjalin hubungan dengan gadis Italia, akhirnya mengucap ijab kabul, Kamis (11/5/2017).

Masuk Islam, Cewek Italia Ini Akhirnya Dinikahi Dzulfikar, Kisahnya Bermula Dari Facebook


Dia menikahi kekasihnya, Ilaria Blanco (21) di rumahnya di Desa Tragung, Kandeman, Kabupaten Batang.

Pernikahan kedua sejoli ini berlangsung sederhana dan hanya diikuti oleh pihak keluarga.

Meski awalnya pihak keluarga enggan diliput oleh media, namun setelah prosesi pernihakan, keluarga Dzulfikar sedikit membuka diri.

Dzulfikar menngaku pernikahannya dengan Ilaria sudah mendapatkan restu dari ayah Ilaria Bianco yaitu Aleksander Michael Angelo Monte Bianco.

"Kami melakukan pernikahan dengan cara muslim. Dan itu tidak bermasalah bagi keluarga dia (Ilaria)," kata Dzulfikar.

Masuk Islam, Cewek Italia Ini Akhirnya Dinikahi Dzulfikar, Kisahnya Bermula Dari Facebook


Paman Dzulfikar, Zaenal Arifin, menambahkan pernikahan keduanya dilakukan dengan cara Islam. Ilaria Bianco sejak tanggal 1 Mei lalu, sudah melafadzkan kalimat syahadat atas bimbingan KH Zainul Irokhi, pengasuh Pesantren Darul Ulum Desa Tragung Kecamatan Kandeman Batang.

"Ilaria berpindah agama hari Senin 1 Mei 2017 sudah mualaf kita memang berharap begitu sebelum nikah sudah menjadi muslim," Kata Zainal Arifin Paman Dzulfikar yang juga menjadi saksi Pernikahan.

Zaenal mengatakan bahwa meski telah menikah, Ilaria Bianco belum berpikir untuk berpindah kewarganegaraan.

"Usai melakukan pernikahan secara agama dan adat, kemudian akan kami proses kepengurusan perpindahan kewarganegaraan sampai ke Duta Besar Italia di Indonesia. Sedangkan untuk pernikahan secara hukum administrasi akan secepatnya kita rampungkan," ungkap Zaenal.

Ismoyowati, Ibu Dzulfikar mengaku sangat bersyukur dan bahagia melihat anaknya akhirnya melangsungkan pernikahan.

"Kebahagiaan ini tidak bisa saya sampaikan dengan kata-kata karena segala sesuatu kejadian hanya karena Allah," ucap Ismoyowati.

Masuk Islam, Cewek Italia Ini Akhirnya Dinikahi Dzulfikar, Kisahnya Bermula Dari Facebook
Dzulfikar (23) resmi menikahi kekasihnya asal Italia, Ilaria Blanco (21), di rumahnya di Desa Tragung, Kandeman, Kabupaten Batang, Kamis (11/5/2017). Resepsi pernikahan pun sangat sederhana. ISTIMEWA


Sebelumnya Ilaria  datang ke Indonesia pada 18 April 2017 lalu. Kedatangannya dari Italia ke Indonesia adalah untuk mencari Dzulfikar yang dikenalnya melalui Faceebook.

Ilaria bekerja sebagai instruktur renang bagi murid SD di kota Milano, Italia. Dengan berbekal tabungan yang dikumpulkan selama 2 tahun, Ilaria datang ke Batang untuk menemui pria pujaan hatinya, Dzulfikar.


Kisahnya Bermula Dari Facebook

Kisah cinta Dzulfikar (23) menyapa Ilaria Montebianco (21) memang benar-benar unik.

Sepanjang hari kemarin, berita ini mendominasi sebagai salah satu berita yang sangat disukai pembaca.

Mereka berkenalan lewat media sosial dan mulai berteman. Selama 2 tahun, mereka berkomunikasi hanya lewat media digital.

Selama itu pula tumbuh benih-benih cinta di antara mereka. Ya, saat itu hanya modal Hallo, Dzulfikar (23) menyapa Ilaria Montebianco (21).

Masuk Islam, Cewek Italia Ini Akhirnya Dinikahi Dzulfikar, Kisahnya Bermula Dari Facebook
Ilaria Montebianco (tengah) saat bertandang ke kediaman kekasihnya di Batang, Jawa Tengah.


Lalu dengan kata-kata yang sama, gadis berasal dari Bari, Italia, membalas sapaan Dzulfikar. "Saat itu ada rasa sayang tetapi bukan cinta. 

"Saya memberanikan diri menyapa dengan kata hallo dan kemudian dibalas Ilaria dengan kata yang sama," ungkap Dzulfikar.

Berikut sembilan fakta tentang Ilaria Montebianco yang dibikin klepek-klepek Dzulfikar:

1. Nama lengkapnya Ilaria Montebianco.

2. Umur 21 tahun

3. Kelahiran Bari, Italia

4. Pernah bekerja sebagai pelatih renang anak-anak

5. Merespon Dzulzikar pertama kali dengan kata 'Hallo'

6. Menguasai 2 bahasa, Italia dan Inggris

7. Bersedia masuk Islam atas kehendak sendiri

8. Kelakuannya kaya putri solo, anteng dan manut

9. Sudah direstui orang tuanya untuk menikah dengan Dzulfikar.




Terima Kasih sudah membaca, Jika artikel ini bermanfaat, Yuk bagikan ke orang terdekatmu. Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya  @Tahukah.Anda.News

republished by Yes Muslim - Portal Muslim Terupdate !



Fritjhof Schuon, sang Ahli filsafat Terkenal JERMAN yang Bersyahadat



  Yes  Muslim  -  Kalangan akademisi maupun mahasiswa filsafat dan orang-orang yang menggemari ilmu filsafat tentu mengenal sosok Fritjhof Schuon. Ya, dia adalah salah seorang ahli filsafat yang sangat terkenal. Tidak hanya di kalangan ilmuwan Barat, tapi juga cendekiawan Muslim.

Semasa hidupnya, Frithjof Schuon dikenal sebagai seorang filsuf sekaligus metafisikawan serta penulis berbagai buku bertema agama dan spiritualitas. Namanya juga selalu dikaitkan dengan gagasannya yang tertuang dalam buku fenomenalnya berjudul The Transcendent Unity of Religions. Sebuah buku yang dijadikan rujukan oleh para penganut paham pluralisme agama.

Frithjof Schuon dilahirkan di Basel, Swiss, pada tanggal 18 Juni 1907. Ayahnya berdarah Jerman dan ibunya berasal dari Asaltia. Ayahnya adalah seorang pemain biola, sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga. Masa kecilnya ia habiskan di Basel dan bersekolah di sana hingga kematian ayahnya. Sepeninggal ayahnya, Schuon kecil bersama sang ibu memutuskan untuk hijrah ke Mulhouse, Prancis.

Ketika bermukim di Prancis inilah Schuon mulai menunjukkan ketertarikannya terhadap ilmu filsafat. Salah satu tokoh filsuf yang amat dikaguminya adalah Rene Guenon, seorang filsuf berkebangsaan Prancis. Guenon yang juga merupakan seorang mualaf dikenal sebagai pelopor filsafat abadi.

Sejak usia 16 tahun, Schuon telah melahap berbagai karya Guenon, selain mengkaji karya-karya Plato. Lantaran terobsesi oleh pemikiran Guenon, Schuon memberanikan diri berkorespondensi dengan tokoh panutannya tersebut selama hampir 20 tahun lamanya. Kelak ia menjadi salah seorang tokoh penerus pemikiran Guenon.

Setelah menjalani wajib militer selama 1,5 tahun, Schuon memutuskan untuk hijrah ke Kota Paris. Di kota mode ini, ia mencoba bekerja sebagai desainer tekstil. Pada sela-sela waktu luangnya, Schuon mengikuti kelas bahasa Arab yang diselenggarakan di sebuah masjid di Paris.

Hidup di Paris telah memberikan kesempatan kepada Schuon untuk mengenal berbagai bentuk kesenian tradisional dari berbagai negara, khususnya Asia. Kecintaannya terhadap kesenian tradisional inilah yang kemudian membawanya berkelana hingga ke Aljazair pada 1932. Di sana ia bertemu dengan seorang sufi yang bernama Syekh Ahmad Al-Alawi.

Pada 1935, untuk kali kedua ia melakukan perjalana ke Afrika Utara. Kali ini tidak hanya Aljazair yang dikunjunginya, tetapi juga Maroko. Pengembaraannya ke wilayah Afrika Utara dilanjutkan dengan mengunjungi Mesir antara tahun 1938 dan 1939. Di sini, ia bertemu Guenon untuk pertama kalinya. Pada saat itulah, terjadi transfer ilmu dari guru kepada muridnya secara langsung.

Dari Mesir, ia meneruskan perjalanannya hingga ke negeri India. Di negeri-negeri yang telah dikunjunginya tersebut, Schuon banyak berjumpa dengan tokoh sufi Islam, Hindu, dan Buddha.

Pada 1939, sesaat setelah kedatangannya di India, Perang Dunia II meletus. Keadaan tersebut memaksanya untuk kembali ke Prancis dan mengabdikan diri dalam angkatan bersenjata Prancis. Keikutsertaannya dalam pasukan Prancis membuat dirinya menjadi tahanan perang Jerman. Ia pun mencari suaka ke Swiss.






Oleh pemerintah Swiss ia diberikan status kewarganegaraan Swiss dengan syarat ia harus menetap di sana selama 40 tahun. Pada 1949, ia menikahi seorang perempuan Swiss keturunan Jerman. Sang istri, selain memiliki ketertarikan yang sama dalam bidang agama dan metafisika, juga dikenal sebagai seorang pelukis yang berbakat.

Bersama sang istri, Schuon melakukan perjalanan spiritual ke berbagai belahan dunia sampai ke Amerika Serikat (AS). Dari beberapa kunjungannya ke Amerika, mereka meneliti kehidupan suku India Crow. Pasangan suami istri ini pun sempat menjalani ajaran tentang ritual ibadah dan falsafah hidup suku India Crow.

Akan tetapi, dari sekian banyak ajaran filsafat yang dipelajarinya, ia tertarik dengan filsafat Islam. Hal ini pula yang pada akhirnya mendorong dirinya untuk berpindah keyakinan dan memeluk Islam.

Namun, tidak banyak data mengenai kebenaran tersebut dan yang menyebutkan kapan persisnya ia masuk Islam. Tetapi, disebutkan bahwa setelah menjadi seorang Muslim, ia mengganti namanya dengan Isa Nuruddin Ahmad al-Syazhili al-Darquwi al-Alawi al-Maryami.

Dalam pandangan Schuon, Islam lebih baik dari Hindu karena agama ini memuat bentuk terakhir dari Sanatana Dharma. Ajaran Islam, menurutnya, tidak hanya memuat aspek esoterisme (mencakup aspek metafisis dan dimensi internal agama), tetapi juga aspek eksoterisme (mencakup aspek eksternal, dogmatis, ritual, etika, dan moral suatu agama). Sementara ajaran Hindu hanya mengedepankan salah satu aspek tersebut.

Tahun 1980, Schuon dan istrinya beremigrasi ke Indiana, Amerika Serikat. Ia bermukim di negeri Paman Sam ini hingga akhir hayatnya pada 1998. Sepanjang hidupnya, ia telah menghasilkan lebih dari 20 karya tulisan. Meski berbagai gagasan yang ia tuangkan melalui karya-karyanya ini banyak menuai kritikan dan perdebatan, namun hingga kini pemikirannya tersebut masih dipuji dan diikuti oleh sejumlah intelektual bertaraf internasional dan lintas agama.

Frithjof Schuon dikenal luas sebagai seorang tokoh terkemuka dalam bidang religio perennis (agama abadi). Ia menegaskan prinsip-prinsip metafisika tradisional, mengeksplorasi dimensi-dimensi esoteris agama, menembus bentuk-bentuk mitologis dan agama, serta mengkritik modernitas.

Schuon, sebagaimana dipaparkan Adnin Armas MA dalam tulisannya yang bertajuk Pluralisme Agama dan Gerakan Freemason, juga mengangkat perbedaan antara dimensi-dimensi tradisi agama eksoteris dan esoteris, sekaligus menyingkap titik temu metafisika antarsemua agama ortodoks. Ia mengungkap, satu-satunya Realitas Akhir, Yang Mutlak, Yang Tidak Terbatas, dan Maha Sempurna. Ia menyeru supaya manusia dekat kepada-Nya. Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa, yakni Allah SWT.

Dalam pandangan Schuon, dogma, hukum, moral, dan ritual agama adalah berbeda. Ia berpendapat agama-agama mengandung dimensi eksoteris dan esoteris. Kedua dimensi ini yang inheren dalam agama berasal dari dan diketahui melalui intelektual. 

Menurut Schuon, secara psikologis, ego manusia terkait dengan badan, otak, dan hati. Jika badan diasosiasikan dengan eksistensi fisik, otak dengan pikiran, hati dengan intelektual. Jika dikaitkan dengan realitas, intelektual dapat diasosiasikan dengan esensi Tuhan (Yang Satu) dan langit (alam yang menjadi model dasar), sedangkan pikiran dan badan meliputi dunia fisik, terestrial. Intelektual dalam hal ini sangat penting karena otak dan badan di bawah kendali dan berasal dari intelektual.

Intelektual adalah pusat manusia (the centre of human being), yang bersemayam di dalam hati. Kualifikasi intelektual harus didampingi dengan kualifikasi moral. Jika tidak, secara spiritual, intelektual tidak akan berfungsi. Hubungan antara ‘intelektualitas’ dan ‘spiritualitas’ adalah bagaikan hubungan antara pusat dan pinggiran. Intelektualitas menjadi spiritualitas ketika manusia sepenuhnya hidup di dalam kebenaran.

Intelektual lebih tinggi dari rasio. Karena, jika rasio itu menyimpulkan sesuatu berdasarkan kepada data, mental berfungsi karena eksistensi intelektual. Rasio hanyalah media untuk menunjukkan jalan kepada orang buta, bukan untuk melihat.

Sedangkan intelektual, dengan bantuan rasio, bisa mengungkapkan sesuatu dengan sendirinya secara pasti. Selain itu, intelektual dapat menggunakan rasio untuk mendukung aktualisasinya.  

Di dunia fisik, intelektual terbagi menjadi pikiran dan badan. Di alam langit yang menjadi model dasar atau di dalam ide Plato, pikiran dan badan merupakan makna yang tidak dibedakan. Manusia memahami kebenaran melalui intuisi. Sebagai sebuah daya, intelektual adalah dasar bagi intuisi. Intuisi membedakan antara yang riil dan ilusi, antara wujud yang wajib dan wujud yang mungkin. Implikasinya, ada realitas transenden di luar dunia bentuk.


Dengan intelektual, manusia mengetahui bahwa realitas dapat dibagi menjadi dua: absolut dan relatif, riil dan ilusi, yang harus dan mungkin, yang esoteris dan eksoteris. Menurut Schuon, agama-agama bertemu pada level yang esoteris, bukan eksoteris. 

Schuon menjelaskan, eksoteris adalah aspek eksternal, formal, hukum, dogmatis, ritual, etika, dan moral sebuah agama. Eksoteris berada sepenuhnya di dalam maya, kosmos yang tercipta.

Dalam pandangan eksoteris, Tuhan dipersepsikan sebagai Pencipta dan Pembuat Hukum, bukan Tuhan sebagai esensi karena eksoterisme berada di dalam maya, yang relatif dalam hubungannya dengan Atma. Pandangan eksoteris bermakna pandangan yang eksklusif, absolut, dan total, sekalipun dari sudut pandang intelektual adalah relatif.

Pandangan eksoteris, menurutnya, bukan saja benar dan sah, bahkan juga keharusan mutlak bagi keselamatan individu. Bagaimanapun, kebenaran eksoteris adalah relatif.  Inti dari eksoteris adalah ‘kepercayaan’ kepada huruf—sebuah dogma esklusifistik (formalistik)—dan kepatuhan terhadap hukum ritual dan moral. Selain itu, eksoterisme tidak pernah akan melampaui individu. Eksoterisme bukan muncul dari esoterisme, namun muncul dari Tuhan.  

Schuon menyadari jika masing-masing form agama meyakini bahwa sesuatu form itu lebih hebat dibanding dengan form yang lain. Pemikiran seperti itu, lanjut Schuon, sangat wajar. Perpindahan agama terjadi justru karena adanya superioritas sebuah form terhadap yang lain. Bagaimanapun, superioritas tersebut sebenarnya relatif.

Sementara itu, esoteris adalah aspek metafisis dan dimensi internal agama. Tanpa esoterisme, agama akan teredusir menjadi sekedar aspek-aspek eksternal dan dogmatis-formalistik. Esoterisme dan eksoterisme saling melengkapi. Esoteris bagaikan ‘hati’ dan eksoteris bagaikan ‘badan’ agama. 

Schuon menambahkan, titik temu agama bukan berada pada level eksoteris. Sekalipun agama hidup di dalam dunia bentuk (a world of forms), namun ia bersumber dari Esensi yang Tak Berbentuk (The Formless Essence). Agama memiliki dimensi esoteris yang berada di atas dimensi eksoteris. Titik temu antaragama hanya ada pada level esoteris.

Melalui esoterisme, manusia akan menemukan dirinya yang benar. Pandangan esoteris akan menolak ego manusia dan menggantinya dengan ego yang diwarnai dengan nilai-nilai ketuhanan. Esoterisme menembus simbol-simbol eksoterisme. Sekalipun terkait secara inheren kepada eksoterisme, esoterisme independen dari aspek eksternal, bentuk, formal agama. Independensi tersebut karena esensi dari esoterisme adalah kebenaran total. Kebenaran yang tidak terbatas dan tidak teredusir kepada eksoterisme yang memiliki keterbatasan.



Terima Kasih sudah membaca, Jika artikel ini bermanfaat, Yuk bagikan ke orang terdekatmu. Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya  @Tahukah.Anda.News

republished by Yes Muslim - Portal Muslim Terupdate !



Kisah mantan penganut Kristen Amerika, Baxter: Aku Merasakan Kedamaian setelah Memeluk Islam




AKIFAH Baxter, mantan penganut Kristen yang tinggal di Amerika. Suatu hari ia jalan-jalan ke toko buku. Ia mencari sebuah buku yang dapat membimbingnya. Lalu ia menemukan sebuah buku tentang Islam, yang kemudian mengubah seluruh pandangan spiritualnya.

Baxter bukanlah seorang ateis. Ia yakin akan keberadaan Tuhan, tapi ia mencari jalan yang tepat untuk mencapai kebenaran itu. Ia berkisah tentang pencarian kebenaran yang menyebabkannya memeluk Islam.

Aku selalu menyadari akan keberadaan Tuhan. Aku selalu merasa bahwa Dia ada di sana. Kadang-kadang perasaan itu jauh, dan sering kali aku mengabaikannya. Tapi aku tidak pernah bisa menyangkal pengetahuan ini. Karena itu, sepanjang hidupku, aku terus mencari kebenaran tentang rencana-Nya.

Kuhadiri banyak kajian di gereja. Aku mendengarkan, berdoa, berdiskusi dengan orang-orang dari semua agama yang berbeda. Tapi tampaknya selalu ada sesuatu yang kurasa tidak benar. Membingungkan. Seperti ada sesuatu yang hilang.

Dulu, aku sering mendengar orang berkata padaku, “Ya, aku percaya pada Tuhan, tapi aku tak memiliki agama. Dan menurutku, mereka semua keliru.”

Inilah yang benar-benar kurasakan. Namun, aku tak ingin membiarkan rasa penasaran ini pergi kemudian hanya menerima suatu keyakinan (agama) begitu saja. Aku tahu jika Tuhan benar-benar ada, Dia tidak akan meninggalkan kita tanpa arah, atau bahkan tersesat. Harus ada langkah nyata mencari agama yang benar. Dan aku harus menemukannya.

Berbagai gereja Kristen tempatku berkonsentrasi mencari kebenaran, -karena aku hanya berada di lingkungan itu-, memang tampaknya ada kebenaran dalam beberapa ajaran mereka. Namun, ada begitu banyak pandangan yang berbeda. Sehingga banyak ajaran yang bertentangan pada hal-hal dasar seperti bagaimana berdoa, berdoa kepada siapa, siapa yang akan “diselamatkan” dan siapa yang tidak, dan apa yang harus seseorang lakukan untuk “diselamatkan”. Tampaknya begitu berbelit-belit. Aku merasa hampir menyerah.

Aku baru saja mengunjungi gereja yang mengakui eksistensi Tuhan dan tujuan dari keberadaan manusia. Namun ajarannya meninggalkan rasa frustrasi yang begitu menggeliat. Aku benar-benar frustrasi karena apa yang mereka ajarkan bukanlah suatu kebenaran.



Suatu hari, aku jalan-jalan ke sebuah toko buku. Aku melihat-lihat genre buku agama. Saat aku berdiri di sana, kurayapi pandanganku di susunan buku. Kulihat sebagian besarnya adalah buku-buku Kristen. Tiba-tiba terlintas di benakku, apakah toko ini punya buku-buku tentang Islam.

Kusadari hampir tidak ada buku tentang Islam di sini. Tapi ketika kuambil salah satu buku Islam -yang hanya karena penasaran-, ternyata malah membuatku bersemangat dengan apa yang kubaca. Hal pertama yang membuatku terpana adalah pernyataan ‘Tidak ada Tuhan yang benar kecuali hanya Allah,’ Dia tidak punya rekanan atau sekutu, dan semua doa dan ibadah hanya diarahkan pada-Nya saja. Pernyataan ini tampak begitu sederhana, tapi pesannya begitu kuat, sehingga aku langsung menangkap pesannya.

Dari situ aku mulai membaca segala sesuatu tentang Islam. Semua yang kubaca benar-benar memuaskan dan dapat kumengerti (logis). Seolah-olah semua potongan-potongan teka-teki ini terjawab dengan sempurna, dan gambaran yang jelas itu begitu nyata.

Aku begitu bersemangat, jantungku berdebar setiap saat, setiap kali aku membaca segala sesuatu tentang Islam. Kemudian, ketika aku membaca Alquran, aku merasa seperti benar-benar mendapat anugerah yang besar untuk dapat membaca kitab ini. (Setelah membacanya) Aku benar-benar yakin bahwa kitab ini datang langsung dari Allah melalui Rasul-Nya ﷺ.

Inilah dia kebenaran. Aku merasa, sepertinya selama ini aku telah menjadi seorang muslim, hanya saja aku tidak menyadarinya. Sekarang kumulai hidupku sebagai seorang muslim. Aku merasakan kedamaian dan keamanan setelah mengetahui apa yang kupelajari adalah kebenaran hakiki yang akan membawaku lebih dekat kepada Allah. Semoga Allah menjaga dan membimbingku.


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Pemuda ini Masuk Islam setelah Zakir Naik Jelaskan Maksud “Anak Tuhan”



Diantara sekian banyak penanya dalam acara Dr Zakir Naik di Bekasi tanggal 8 April kemaren adalah salah seorang pemuda non muslim yang bingung dengan banyaknya statemen dalam Al-Kitab tentang anak Tuhan.

Maka Zakir Naik menjelaskan bahwa menurutnya anak Tuhan itu adalah sebutan bagi orang-orang yang taat kepada Tuhan dan bukan maksudnya anak tuhan dalam makna biasa, sehingga Adam pun disebut anak Tuhan.

Setelah mendapatkan penjelasan yang memuaskan maka pemuda ini pun mengikrarkan 2 kalimat Syahadat; Mengimani bahwa Allah lah satu -satunya Tuhan dan Muhammad adalah utusan-Nya.

Berikut link videonya:



Jika artikel ini bermanfaat, bagikan ke orang terdekatmu. Bagikan informasi bermanfaat juga termasuk amal ho.... Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya @Tahukah.Anda.News


Sumber | republished by Yes Muslim - Portal Muslim Terupdate !

ALLAHUAKBAR ! Dokter Muda KHATOLIK Masuk Islam Minta Dituntun Ucap Syahadat Dr Zakir Naik





Dokter Muda KHATOLIK Masuk Islam 
Minta Dituntun Ucap Syahadat Dr Zakir Naik





Jika artikel ini bermanfaat, bagikan ke orang terdekatmu. Bagikan informasi bermanfaat juga termasuk amal ho.... Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya @Tahukah.Anda.News


Sumber | republished by Yes Muslim - Portal Muslim Terupdate !

MANTAP ! DR Zakir Naik Hilangkan Kebingungan Gadis Budha ini Untuk Masuk Islam


Zakir Naik Bekasi 8 April 2017 : Wanita Budha Ini Sedang Bingung dengan Agamanya Zakir Naik Terbaru



Namanya Lia. Beragama Budha. Ia berkisah tentang dirinya yang mencari kebenaran sebuah agama ketika ia menemukannya yang ia pikir benar, tapi ia bingung. Apakah harus berpindah agama?

"Saya tidak bisa meninggalkan kepercayaan dan adat-istiadat saya. Apakah saya harus mengikuti kepercayaan saya atau harus mengikuti kebenaran agama tersebut?"





"Saudara kita seorang Budha, ia bertanya bolehkah dia masuk Islam tapi tetap mempertahankan kebudayaan sebelumnya. Saya katakan kepada muslim adalah menyerahkan keinginan hanya kepada Allah. Jadi kita harus mengikuti keinginan Allah, dalam Alquran disebutkan agama yang diterima adalah Islam. Ternyata dalam agama Budha, dalam kitab sucinya mereka disebutkan bahwa ketika seorang bertanya pada orang suci mereka. Jika Anda mati, siapa yang akan membimbing kami, maka sudah dijawab, nanti akan ada seorang yang membimbing kalian, dia akan ditunjukkan Sang Penyayang. Ternyata nama Nabi Muhammad ini diramalkan oleh Budha sendiri. Karena dalam surat Al-Mukminun bahwa Nabi kita adlaj nabi bagi segala alam.

Terkait pertanyaan Anda, bolehkah masuk Islam dengan tetap mempraktikkan kebudayaan Anda, maka ini sama sekali tidak dilarang dalam Islam, kecuali jika tradisi dan kebudayaan menyelisihi Islam. Misalkan Anda punya tradisi berbakti kepada orangtua, maka tradisi dibenarkan dalam Islam tapi bila Anda punya tradisi minum alkohol, jika Anda masuk Islam maka Anda tidak boleh lagi minum alkohol." kata Zakir.

Dan semua yang dilarang dalam Alquran, kata Zakir, jika kita menaati maka itu pasti akan bermanfaat bagi kehidupan kita. "Dan semua yang dilarang dalam Alquran jika kita menaatinya maka itu pastikan bermanfaat bagi kehidupan Anda, jadi sepanjang tradisi tidak bertentangan dengan Islam maka Anda tetap boleh melakukannya."

Gadis cantik itu melepaskan headset yang menempel di telinganya ketika mendengar terjemahan dari penerjemah.

"Saya ingin bertanya apakah Anda tahu ada tradisi Anda yang setahu Anda bertentangan dengan Islam? Apakah ada masalah khusus yang Anda tahu bertentangan dengan agama Islam?"

Ia pun mengungkapkan sebuah rahasia dari keluarganya. "Agama di keluarga saya sebenarnya bukan Budha tapi Konghucu. Ibadahnya ke Pekong atau orang-orang menyebutnya menyembah dewa. Jadi adat keluarga saya bertentangan dengan muslim.

"Saudariku, apakah Anda berpikir menyembah patung adalah tindakan yang benar?"

"Salah," kata Lia. Ia pun dihadiahi tepuk tangan oleh penonton.

"Saudariku, apakah Anda percaya Tuhan itu satu?"

"Ya," kata Lia. Kembali ia dihadiahi tepuk tangan oleh penonton.

"Masya Allah," kata Zakir.

"Apakah Anda percaya Muhammad adalah utusan Allah?" kata Zakir.

"Saya meyakini, cuma belum dapat memahaminya.

"Apakah Anda percaya Muhammad adalah utusan Allah? Apa yang kamu belum yakin tentang Muhammad?" kata Zakir.

"Saya belum tahu sejarahnya dan belum terlalu mendalami," kata Lia.

"Jika Anda bisa mendapatkan sejarah Nabi kita Muhammad, insya Allah Anda belajar sejarah hidupnya. Anda akan memahami perjalanan hidupnya. Ada satu buku bagus tentang sirah Nabi Muhammad yaitu Arrahiq Al-Makhtum. Baca buku tersebut dan Anda akan menemukan jawabannya,"

Tak lama setelah itu, Lia menjadi salah satu peserta yang convert dengan Islam. Ia muallaf. [opinibangsa.id / bdn]


Jika artikel ini bermanfaat, bagikan ke orang terdekatmu. Bagikan informasi bermanfaat juga termasuk amal ho.... Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya @Tahukah.Anda.News


Sumber | republished by Yes Muslim - Portal Muslim Terupdate !

Detik-Detik Menjelang Ceramah Selesai, 7 Pemuda Non Muslim Minta Dibimbing Syahadat oleh Dr Zakir Naik




Safari dakwah Dr Zakir Naik di Bekasi hari sabtu(8/4/2017) hingga ahad(9/4/2017) dini hari sangat spesial, karena ada sebanyak 16 orang non muslim memutuskan untuk mengucapkan kalimat Syahadat dan menyatakan diri memeluk agama Islam.

Yang sangat menarik adalah ketika detik-detik sebelum Dr Zakir Naik menyudahi acara, tiba-tiba ada 7 pemuda non Muslim menyatakan ingin dibimbing Syahadat oleh Dr Zakir Naik.

Ketujuh pemuda non Muslim itupun akhirnya di absen satu-satu oleh Dr Zakir Naik. Namanya adalah Afes, Renaldi, Daniel, Yulian, Eka, Reza dan Rio. "Masya Allah, seven brother. Do you time is short , I would like to ask all seven. Do you believe is one god, All of you believe?" tanya Dr Zakir.

Ketujuh pemuda non muslim itupun kompak menjawab : "believe".

Kemudian Dr Zakir menanyakan : " Do you believe Jesus is God or Messenjer".

Ketujuh pemuda non muslim itupun kembali kompak menjawab : "messenger".

Kemudian Dr Zakir menanyakan : " Do all seven of you believe prophet Muhamamd is messenger of God?"

Ketujuh pemuda non muslim itupun kembali kompak menjawab "yes I believe".

Selanjutnya Dr Zakir menanyakan apakah ketujuh pemuda non muslim ini memutuskan masuk Islam atas kemaunya sendiri dan tanpa paksaan. Ketujuh pemuda itupun menjawab ya.

Akhirnya Dr Zakir membimbing ketujuh pemuda non Muslim mengucapkan dua kalimat Syahadat : "Asyhadu Allaa Ilaaha illallah, Wa asyhadu anna Muhammad ar Rasulullah". [opinibangsa.id / imi]

Jika artikel ini bermanfaat, bagikan ke orang terdekatmu. Bagikan informasi bermanfaat juga termasuk amal ho.... Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya @Tahukah.Anda.News


Sumber | republished by Yes Muslim - Portal Muslim Terupdate !

MASYA ALLAH... Mualaf Tionghoa Ini Islamkan 2 Orang Dalam 1 Hari SEKALIGUS !


Steven Indra Wibowo, mualaf Tionghoa yang sekarang menjabat Ketua Mualaf Center Indonesia sangat aktif berdakwah menyebarkan Islam dimanapun. Sudah banyak -atas izin Allah- non muslim yang masuk Islam dengan perantaraan dakwah beliau.

Sungguh beliau dianugerahi Allah tak terhingga, sebagaimana kabar gembira yang disampaikan Rasulullah SAW:

“Sungguh, bila Allah memberi hidayah seseorang melalui tanganmu, itu lebih baik bagimu dibanding apa yang tertimpa cahaya matahari di saat terbit dan terbenamnya (yaitu: dunia dan seisinya).” (HR Thabrani)

Terbaru, Koh Steven Indra Wibowo menuturkan ada 2 orang yang bersyahadat 'secara tak terduga' pada hari yang sama pada Jumat (7/4/2017) kemarin.

Berikut disampaikan Koh Steven Indra Wibowo di laman fb-nya:

Assalamualaikum, ijinkan saya share sedikit perjalanan hari ini

Alhamdulillah, luar biasa cara Allah mengajari kita, 2 mualaf bersyahadat hari ini atas ijin Allah yang saya temui: 1 supir taxi, dan 1 lagi teman duduk disebelah saya di kereta.

Allah takdirkan supir taxi itu mendengar saya nelpon mualaf dan sedang memotivasi mualaf tsb karena sedang dijauhi teman dan saudara2nya setelah dia jadi mualaf. Dan bapak supir taxi ini bertanya-tanya tentang Islam, tiada tendensius apapun dalam pertanyaannya walau nyerempet2 politik ya ☺, diskusi mengalir di kemacetan jakarta untuk 1 jam 20 menit berikutnya, dari total perjalanan taxi 1 jam 45 menit. Judulnya macet membawa hidayah dan supir taxi ini bersyahadat di tengah kemacetan didalam taxi, gak saya videoin krn susah juga posisinya, bisa dibayangin.

Dan satu lagi di kereta saat pemuda di samping saya melihat seorang penumpang lain yang baca Quran di kereta sambil bergerak kesana sini karena kereta yang gak stabil dan nyeletuk lah si pemuda disamping saya "ngapain baca buku susah-susah lagi kereta goyang2 gini", saya nyahutin aja "itu yg dibaca Quran bro, kenyamanan dalam hati dia saat baca Quran menetralisir guncangan kereta", eh ternyata dijawab "ah masak sih?" Nah diskusi berlanjut dengan menerangkan bagaimana Quran itu menenangkan hati karena banyak nasihat yang membuat hati manusia tenang dan seterusnya dia coba saya tunjukan aplikasi Quran di hape saya, eh dia install di hapenya 😁, dan ternyata Allah hanya memberi 5 menit bikin anak muda ini nangis, saya agak kaget aja, "eh mas bro kenape?", dia cuma bilang "saya buka acak aja ayat krn saya gak tau Quran, trus ketemu ini", pas saya periksa saya baca:

"Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. dan untuk Itulah Allah menciptakan mereka" surat Hud ayat ke 119.

Lah saya tanya emang kenapa mas?

Dia jawab dia bukanlah seorang muslim, dia seorang nasrani, dan sampai sedewasa ini dia gak tau apa tujuan dia diciptakan Tuhannya, ternyata jawabannya malah di Quran, ya karena dia diberi rahmat Allah.

Akhirnya terjadilah Syahadat di kereta.

Saya mohon ambil ibrahnya ya, seberapa dekat kita dengan Quran? Jawab sendiri, kadang kita mencari hidayah atau petunjuk untuk masalah hidup yg kita hadapi sampai ke ujung ujung dunia dengan cara apapun, padahal jawabannya ada di Quran ☺

Wassalamualaikum.

(Steven Indra Wibowo)

(Koh Steven Indra Wibowo bersama Zakir Naik)

*Sumber: fb Steven Indra Wibowo


Jika artikel ini bermanfaat, bagikan ke orang terdekatmu. Bagikan informasi bermanfaat juga termasuk amal ho.... Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya @Tahukah.Anda.News


Sumber | republished by Yes Muslim - Portal Muslim Terupdate !