Tampilkan postingan dengan label Kisah - Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah - Sejarah. Tampilkan semua postingan

Tanzania, Rumah Muslim Terbesar di Afrika Timur, Ini Jejak Islam dan Kesultanan Zanzibar


Menelusuri Jejak Islam di Tanzania


  Yes  Muslim  - Menurut Mark Horton dan John Middleton dalam The Swahili: The Social Landscape of a Mercantile Society,  bukti nyata awal kehadiran Muslim di Afrika Timur adalah fondasi sebuah masjid di Shanga di Pulau Pate. Dalam sebuah penggalian tahun 1980-an, di lokasi tersebut ditemukan koin emas, perak, dan tembaga dengan keterangan tahun 830 M.



Sedangkan sebuah bangunan utuh tertua di Afrika Timur adalah sebuah masjid yang masih berfungsi di Kizimkazi, sebelah selatan Zanzibar, dan berketerangan tahun 1007 Masehi. Dalam Majoritetens Islam (Stockholm, 1994) disebutkan, Islam diperkirakan tersebar luas di daerah Samudra Hindia pada abad XIV.

Ketika Ibnu Batuta, seorang musafir Muslim dari kawasan Maghrib, mengunjungi pesisir Afrika Timur tahun 1332, ia menuliskan bahwa Islam di sana membuatnya merasa seperti di rumah sendiri. Sebagian besar masyarakat di pesisir waktu itu adalah Muslim dengan Arab sebagai bahasa sastra dan perdagangan.
Seluruh Samudra Hindia, menurut Ibnu Batuta, seolah menjadi "Laut Muslim" di mana Muslim menguasai perdagangan dan mendirikan permukiman pesisir di Asia Tenggara, India, dan Afrika Timur.



Kisah Islam di Tanzania sendiri diawali dengan berdirinya sebuah kesultanan di Pulau Kilwa (cikal bakal Tanzania), yang kemudian disebut Kesultanan Kilwa, sekitar tahun 960-1000 Masehi. Kesultanan Islam tersebut didirikan oleh seorang pangeran Persia dari Shiraz (sekarang merupakan salah satu kota padat penduduk di Iran), Ali ibn al-Hassan el-Shirazy. 

Ali membeli pulau Kilwa dari seorang raja kelompok etnis Bantu, Almuli, dengan imbalan kain berwarna sebanyak bisa menutupi seluruh lingkar pulau tersebut. Menurut sejarah, Ali kemudian menjadi sultan pertama Kilwa pada tahun 957. Kesultanan ini berakhir pada 1506, tujuh tahun setelah Portugis berkuasa di Kilwa.

Islam tersebar di Afrika Timur melalui kegiatan perdagangan di sepanjang pantai, bukan melalui ekspansi wilayah dan penaklukan seperti yang terjadi di Afrika Barat. Abdulaziz Y Lodhi dan David Westerlund (1997) dalam African Islam in Tanzania, menyebutkan, ketika kekerasan oleh Portugis terjadi di daerah pesisir pada abad XVI, Islam di kawasan pantai telah kokoh.




Hampir seluruh keluarga penguasa memiliki hubungan kekerabatan dengan Arab, Persia, India, dan bahkan Asia Tenggara sebagai dampak dari kontak maritim dan koneksi politik yang terjalin. Karena itu, pada akhir abad XVII dan awal abad XVIII, umat Islam berhasil mengusir Portugis dengan bantuan Omani Arab.

Orang Arab kemudian secara bertahap meningkatkan pengaruh politik mereka hingga akhir abad XIX ketika penakluk Eropa tiba di pantai Afrika Timur. Namun, Abdulaziz Y Lodhi dalam tulisannya, Muslims in Eastern Africa-Their Past and Present yang dimuat dalam Nordic Journal of African Studies (1994), meragukan bahwa Islam dibawa ke Afrika Timur, melainkan membawa pengaruhnya kepada orang-orang di luar Afrika Timur. 





Ia mengatakan bahwa mengakui praktik Islamisasi di Afrika Timur sebagai praktik yang dilakukan orang-orang Arab adalah pernyataan yang ironis. Abdulaziz menambahkan, Islam tidak meng-Arab-kan Afrika Timur. Sebaliknya, ia melihat bahwa para imigran Arab yang berdagang di pantai Afrika Timur dan segala praktik keislaman pada masa itu di-Afrika-kan dan di-Swahili-kan. 

Hal itu dibuktikan dengan fakta bahwa orang-orang Arab yang masuk ke Afrika Timur akhirnya berbicara, berpakaian, dan makan dengan cara orang Swahili. Dengan demikian, Islam ditegaskan bukan sebagai sebuah agama asing yang masuk ke Afrika Timur, melainkan sebuah agama lokal yang telah lama berkembang di sepanjang garis pantai Swahili, termasuk di Kilwa dan Zanzibar, yang kini menjadi bagian dari Tanzania. 



Disarikan dari Pusat Data Republika



Tanzania, Rumah Muslim Terbesar di Afrika Timur


 Tanzania merupakan sebuah negara di Afrika Timur yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia di bagian timur. Ia terbentuk dari penyatuan dua wilayah berdaulat, yakni Tanganyika dan Zanzibar. Tak heran, jika negara itu memiliki daratan terluas di Afrika Timur. Negara itu memiliki tiga kawasan fisiografi, yakni kepulauan dan dataran pantai di sebelah timur, plato pedalaman berbetuk piring, dan sejumlah dataran tinggi.





Negara itu menjadi rumah bagi 13,2 juta Muslim. Menurut data pada Pew Research Center, pada Oktober 2009, populasi pemeluk Islam di Tanzania mencapa 30,2 persen dari total penduduk. Berdasarkan data pada Central Intelligence Agency (CIA), sebanyak 35 persen penduduk di daratan utama Tanzania beragama Islam, 30 persen beragama Kristen, dan 35 persen lainnya menganut kepercayaan animisme.

Sedangkan di Pulau Zanzibar, wilayah yang menyimpan sejarah kesultanan Islam menjelang akhir abad XIX, lebih dari 99 persen penduduknya adalah Muslim. Dalam tulisan bertajuk Muslim University in Tanzania; Combating Discrimination in Their Own Country, disebutkan, Tanzania kerap dianggap sebagai negara Kristen. Padahal, negara tersebut justru menjadi rumah bagi populasi Muslim terbesar di Afrika Timur.

Laman Wikipedia menyebutkan, dari total  pemeluk Islam, sebanyak 80 hingga 90 persen di antaranya merupakan Muslim Sunni, sementara sisanya merupakan keturunan Asia adalah Muslim Syiah. Sebagian besar Muslim Syiah adalah orang-orang keturunan Asia.





International Religious Freedom Report: Tanzania memaparkan bahwa Konstitusi Tanzania memberikan kebebasan beragama. Pemerintah menghormatinya sebagai hak. Namun, sejak setelah 1967, survei agama dihapuskan dari laporan sensus pemerintah sehingga saat tidak ada data yang benar-benar aktual dan akurat diketahui perbandingan jumlah Muslim dan non-Muslim di Tanzania.

Di Kota Morogoro, terdapat sebuah universitas Islam yang hampir separuh dari 1.500 mahasiswanya adalah perempuan muda. Tak diketahui secara jelas apakah mereka Muslim ataupun bukan. Yang jelas, semua mahasiswa perempuan diwajibkan mengenakan kain penutup kepala di lingkungan kampus.

Tentang keberadaan Tanzania, Abdulaziz menekankan perhatian pada situasi beragama di Zanzibar. Dalam Muslims in Eastern Africa-Their Past and Present, Zanzibar digambarkan sebagai sebuah kawasan berpenduduk hampir 100 persen Muslim yang terus menjalankan pengaruh Islam di Afrika Timur sejak awal abad XX.

Di Tanzania, semua hari libur kaum Muslim menjadi hari libur nasional, seperti juga hari-hari libur umat Kristen. Namun, lebih dari itu, di Zanzibar bulan Ramadhan diakui sebagai bulan suci, restoran dan kafe tutup hingga menjelang petang. Hingga menjelang awal abad XXI, merokok, makan, dan minum di jalan atau tempat umum dipandang sebagai perbuatan tabu dan para pemabuk dikenai denda.


Disarikan dari Pusat Data Republika






Jejak Kesultanan Zanzibar

Berbicara tentang Islam di Tanzania berarti membicarakan kesultanan di Zanzibar (sebuah pulau yang kini menjadi bagian wilayah Tanzania). Sebab, Tanzania merupakan gabungan dua wilayah berdaulat, Tanganyika dan Zanzibar.

Keduanya bergabung  pada 1964 dengan nama United Republic of Tanganyika and Zanzibar. Pada tahun yang sama, kedua nama republik tersebut dilebur dan nama kesatuan itu berubah menjadi Republic of Tanzania atau Republik Tanzania.

Tak hanya Kilwa, Zanzibar merupakan sebuah kesultanan Islam yang berdiri menjelang akhir abad XIX. Dalam Countries of the World and Their Leaders (United States Department of States, 1975), disebutkan bahwa Zanzibar memperoleh kemerdekaan dari Kerajaan Inggris sebagai sebuah negara monarki konstitusi pada 10 Desember 1963. Pada 1964 menjadi akhir kesultanan Zanzibar, yang kemudian disusul berdirinya Tanzania pada tahun yang sama.





Adapun Tanganyika merupakan sebuah negara koloni Inggris selama periode 1919 sampai 1961. Dalam bahasa Swahili, "tanga" berarti berlayar dan "nyika" berarti "alam rimba" sehingga Tanganyika adalah "berlayar di alam rimba".

Pada 1961, wilayah tersebut mendapatkan kemerdekaan dari Kerajaan Inggris menjadi sebuah negara republik dengan tetap menjadi negara persemakmuran.


Terima Kasih sudah membaca, Jika artikel ini bermanfaat, Yuk bagikan ke orang terdekatmu. Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya  @Tahukah.Anda.News

republished by Yes Muslim - Portal Muslim Terupdate !



Peci Putih dan Siri: “Pergi haji adalah kebanggan orang Bugis!”




  Yes  Muslim  - “Pergi haji adalah kebanggan orang Bugis!” Mungkin bagi orang di luar suku ini, banyak yang heran setelah tahu betapa tingginya minat anak turun para ‘pelaut’ tersebut pergi haji ke Makkah. Faktanya, sangat jelas.

Di kawasan Sulawesi Selatan dan wilayah lain disekitarnya seperti Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Suawesi Tengah  antrean orang pergi haji sudah sangat panjang dan kerapkali disebut ‘tidak masuk akal’ karena telah mencapai rata-rata di atas 25 tahun. Di kabupaten Sidrap dan Pinrang misalnya antrean hajinya sudah hampir mencapai 40 tahun.

‘’Ya bagi kami yang orang Bugis, haji adalah kehormatan. Tak berhaji bagi orang Bugis belum menjadi Muslim yang utuh. Pergi berhaji ke Makkah adalah impian semua orang Bugis,’’ kata anggota DPD Hj Nurmawati Dewi Bantilan senator asal Palu.

Untuk mewujudkan niat suci itu, maka mereka pun serius mempersiapkan pendanaannya melalui menabung secara bertahun-tahun. Setiap kali panen, baik itu padi, coklat, atau pun tanaman lainnya, setiap individu menyisihkan uangnya sedikit-demi sedikit.

Bahkan, banyak di antara orang Bugis yang berprofesi sebagai pedagang mereka menyicilnya dengan cara menabung secara harian. Ibarat pepatah, demi pergi ke Makkah untuk menyempurnakan iman Islamnya, mereka mengumpulkan sedikit demi sedikit hingga menjadi bukit!

Seorang pengusaha travel haji dan umrah asal Sidrap, Andi Aminudin, menceritakan betapa luar biasanya keinginan orang Bugis untuk naik haji. Mereka akan lakukan apa saja, misalnya mengurangi kelezatan makan dan minum, asalkan bisa menyisihkan uang untuk ke Makkah.

Banyak diantaranya selain menabung, cara mengumpulkan uang untuk biaya haji, mereka lakukan dengan membeli emas secara mencicil. Ketika mereka merasa tabungan atau emasnya tersebut telah cukup untuk membiayai perjalanan haji maka tanpa pikir panjang lagi langsung pergi mendaftar naik haji.

‘’Bagi yang berpunya pakai haji khusus. Bayar 4000 dolar untuk setoran awal dan harus menunggu antrean haji hingga tujuh tahun. Bagi orang biasanya maka mereka membayar setoral awal Rp 25 juta dengan risiko antrean haji hingga lebih dari seperempat abad. Nah, meski anteran begitu panjang kami orang Bugis tetap saja mendaftar,’’ kata Andi.

Bagi orang Bugis, lanjut Andi, biaya pergi haji dari dulu belum banyak berubah. Bila diukur dengan perbandingan emas, biaya haji hanya sekitar empat (4) ringgit uang emas, yakni sekitar 160 gram emas murni. Sedangkan bila disandingkan dengan panenan padi, biaya haji dari dulu masih belum beranjak terllau jauh dari nilai harga 23 ton gabah kering.

‘’Bagi kami orang bugis, juga termasuk orang Makassar, setiap kalo panen mereka menyisakan beli ringgit emas. Nah, bila sudah terkumpul empat ringgit emas tersebut, mereka langsung tukarkan untuk melunasi biaya haji. Tak hanya itu kebiasaan menyiapkan diri untuk pergi haji sudah mereka siapkan semenjak mereka menikah, dengan cara memberikan mahar dengan bentuk emas,’’ ujar Andi.

Mengapa lebih memilih menabung dengan emas? Andi pun menjawab salah satunya adalah harga emas yang stabil sehingga mereka tak rugi bila hendak menjualnya kala sudah siap naik haji. “Bagi kami pilihan menabung emas juga dapat menghindarkan diri dari situasi ‘gharar’ (gambling) akibat naik.turunya harga kurs dan komoditi. Jadi dengan menabung memakai emas, harta yang dipakai untuk naik haji benar-benar merupakan harta yang bersih dari riba,’’ kata Andi.


Terima Kasih sudah membaca, Jika artikel ini bermanfaat, Yuk bagikan ke orang terdekatmu. Berbagi informasi bermanfaat juga termasuk amal loh .... Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya @Tahukah.Anda.News


ADA BERITA MENARIK ! 
SCROLL KE BAWAH ! 


Sumber | republished by Yes Muslim - Portal Muslim Terupdate !

JEJAK SEJARAH : Gagah nya Pasukan Turki Utsmani di Jerusalem, Palestina tahun 1900

  Yes  Muslim  - JEJAK SEJARAH : Gagah nya Pasukan Turki Utsmani di Jerusalem, Palestina tahun 1900

Ottoman Imperial Archive




Terima Kasih sudah membaca, Jika artikel ini bermanfaat, Yuk bagikan ke orang terdekatmu. Berbagi informasi bermanfaat juga termasuk amal loh .... Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya @Tahukah.Anda.News


ADA BERITA MENARIK ! 
SCROLL KE BAWAH ! 


Sumber | republished by Yes Muslim - Portal Muslim Terupdate !

FAKTA SEJARAH ! Inilah Peran Muslim dalam Sejarah Kejayaan Inggris





  Yes  Muslim  - Inggris terpecah seperti tidak pernah terjadi sebelumnya. Negara itu berpaling dari Eropa dan penguasanya yang perempuan, Ratu Elizabeth I melirik perdagangan di Timur.

Salah satu aspek terpenting pada era Elizabethan adalah bahwa kebijakan ekonomi dan luar negeri Inggris pada waktu itu didorong oleh aliansinya dengan dunia Islam, fakta yang diingkari pada saat ini dengan mendorong seolah semata sebagai isu kedaulatan nasional.

Pada 1570, ketika jelas bahwa kelompok Protestan tidak akan kembali kepada pangkuan Katolik, Paus kemudian mengkafirkan Elizabeth dan menyerukan kekuasaannya dicopot. Segera, Kerajaan Spanyol yang Katolik memusuhinya dan rencana invasi semakin dekat. Para pedagang Inggris dilarang berdagang di pasar-pasar belanda Spanyol. Isolasi politik dan ekonomi dilakukan untuk menghancurkan negara baru Protestan.

Elizabeth menjawabnya dengan merangkul dunia Islam. Satu-satunya saingan Spanyol adalah Imperium Usmani, yang diperintah oleh Sultan Murad III yang wilayahnya terbentang dari Afrika Utara hingga Eropa Timur dan Samudera Hindia. Usmani berperang melawan Hapsburg puluhan tahun, sukses menundukkan Hungaria. Elizabeth berharap bahwa aliansi Inggris dengan Sultan akan melonggarkan tekanan dan agresi militer Spanyol dan memungkinkan para pedagangnya membuka pasar yang besar di Timur. Untuk menggaransinya, dia juga merangkul saingan Usmani, yakni Shah Persia dan penguasa Maroko.

Problemnya adalah pelbagai imperium Muslim pada waktu itu lebih kuat dari pulau kecil (Inggris) yang diduduki Elizabeth. Elizabeth ingin mengembangkan aliansi perdagangan baru, namun tidak cukup memiliki pembiayaan. Dia kemudian mengembangkan inovasi perdagangan dengan mendirikan perusahaan gabungan bersama dengan saudara perempuannya, Mary Tudor.

Perusahaan-perusahaan tersebut adalah asosiasi komersial yang sahamnya dimiliki secara bersama. Modal tersebut digunakan untuk membiayai perjalanan ke timur, dimana kerugian dan keuntungan ditanggung bersama. Elizabeth mendukung perusahaan Muscovy yang berdagang dengan Persia, yang berlanjut dengan pembentukan Perusahaan Turki untuk berdagang dengan Usmani, dan Perusahaan India Timur, yang pada akhirnya sukses menguasai India.

Pada 1580-an, dia menandatangani perjanjian perdagangan dengan Usmani yang berlangsung lebih 300 tahun, memberikan akses  kepada para pedagang Inggris untuk berdagang di wilayah Usmani. Dia juga membuat aliansi serupa dengan Maroko dengan janji dukungan militer melawan Spanyol.

Ketika uang mengalir, Elizabeth mulai menulis surat kepada para partner Muslimnya yang memuji keuntungan perdagangan timbal balik mereka. Dia menulis surat kepada Murat dengan menyebutnya sebagai “penguasa paling kuat di kerajaan Turki, satu-satunya dan diatas semua, kerajaan yang paling berdaulat di Imperium Timur.” Dia sangat memusuhi Katolik dan menabalkan dirinya sebagai “pembela Kristen yang paling kuat dan tidak terkalahkan melawan semua jenis berhala.” Seperti halnya Muslim, Protestan menolak penyembahan benda dan membanggakan dirinya sebagai Kalimat Tuhan yang tidak membutuhkan perantara, sementara keyakinan Katolik membutuhkan perantara pendeta. Dia dengan cerdik mengeksploitasi permusuhan Katolik terhadap Protestan dan Muslim sebagai dua sisi koin bid’ah yang sama.

Strategi tersebut berhasil. Ribuan pedagang Inggris berpetualang ke daerah-daerah yang belum pernah dikunjunginya, seperti Aleppo Suriah dan Mosul di Irak. Mereka lebih aman ketimbang berdagang di Eropa Katolik, yang beresiko jatuh ke tangan inkuisisi.

Otoritas Usmani melihat kemampuan mereka menyerap semua orang dari beragam keyakinan sebagai kekuatan, bukannya kelemahan dan mengamati dengan senang adanya konflik Protestan-Katolik pada waktu itu. Beberapa pedagang Inggris masuk Islam, seperti Samson Rowlies, pedagang Norkfolk. Mereka melihat pada waktu itu, Islam sebagai keyakinan yang lebih baik dari agama baru mereka Protestan.

para aristokrat Inggris senang dengan perdagangan sutra dan rempah-rempah dari Timur, namun Turki dan Maroko kurang begitu tertarik dengan perdangan wool Inggris. Mereka lebih tertarik dengan senjata. Sebagai tindakan balasan terhadap Katolik, Elizabeth membongkar besi yang ada pada gereja-gereja Katolik dan mengolah lonceng-lonceng mereka untuk menjadi senjata dan kemudian dikirim ke Turki. Ratu melakukan hal yang sama dengan Maroko, menjual senjata dan membeli kalium nitrat, bahan untuk membuat bubuk senjata dan gula.

Gula, sutra, karpet dan rempah-rempah mentrasnformasi cara makan, mendekorasi rumah dan berpakaian bangsa Inggris. Kata-kata seperti “candy” dan “turquoise” (dari batu Turki) menjadi istilah sehari-hari. Bahkan Shakespeare mengangkatnya dalam pertunjukan drama “Othello” setelah kunjungan pertama duta besar Maroko selama 6 bulan.

Meskipun mengalami keberhasilan karena perusahaaan-perusahaan saham bersama, ekonomi Inggris tidak dapat lagi bertahan karena perdagangan jarak jauh. Setelah kematian Elizabeth pada 1603, Raja James I menandatangani perjanjian dengan Spanyol, yang mengakhiri isolasi Inggris.

Kebijakan Elizabeth yang mendekati dunia Islam mampu menahan invasi Katolik dan mentransformasi kerajaan Inggris kedalam model baru investasi saham gabungan yang mampu membiayai perusahaan Virginia membangun koloni pertamanya di Amerika Utara.

Dengan demikian, Islam dalam semua manifestasinya, baik jangkauan wilayah, militer maupun perdagangannya memainkan peran penting dalam sejarah Inggris. Hanya saja, sekarang retorika anti Muslim meracuni wacana politik sehingga melupakan apresiasi mereka atas peran masa lalu kita. 

Terima Kasih sudah membaca, Jika artikel ini bermanfaat, Yuk bagikan ke orang terdekatmu. Berbagi informasi bermanfaat juga termasuk amal loh .... Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya @Tahukah.Anda.News


ADA BERITA MENARIK ! 
SCROLL KE BAWAH ! 


Sumber | republished by Yes Muslim - Portal Muslim Terupdate !

Mengenal Siti Walidah, ‘Kartini’ Muhammadiyah yang Lahirkan Ribuan Amal Usaha

  Yes  Muslim  -  Siti walidah atau Nyai Ahmad Dahlan lahir di Kauman pada 1872 M. Beliau merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara. Ayahnya adalah Muhammad Fadil, kiyai penghulu di keratin yang kemudian menekuni profesi sebagai saudagar batik. 



Siti Walidah kecil, sebagaimana rata-rata anak di Kauman mendapatkan fasilitas pendidikan agama yang dibimbing oleh orang tuanya juga para ulama yang berada di langgar-langgar Kauman. Siti Walidah dikenal sebagai sosok pembelajar. Kemampuannya berdakwah dia asah sejak kecil yang mendorongnya mendapat kepercayaan dari sang ayah untuk membantu mengajar di langgar yang biasa disebut Langgar Kyai Fadhil.


Pada 1889 Siti Walidah dinikahkan dengan Muhammad Darwis nama kecil Kyai Ahmad Dahlan. Pernikahan tersebut merupakan pernikahan sistem family yang kala itu banyak terjadi di Kauman. 

Ahmad Dahlan sendiri adalah saudara sepupu Siti Walidah. Setelah Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah pada tahun 1912, Ahmad Dahlan yang juga memberi perhatian khusus pada kemajuan kaum perempuan mendorong berdirinya ‘Aisyiyah. Siti Walidah merintis gerakan ini dengan memulai pendidikan (pengajian) bagi kaum perempuan di Kauman. Kegiatan ini diisi dengan cursus Al-qur’an yang diperuntukkan gadis-gadis di Kauman yang masuk sekolah netral.

Surat Al-ma’un menjadi surat pertama yang kerap diajarkan pada pengajian ini. Diajarkannya surat ini pada kegiatan cursus bukan tanpa alasan, Siti Walidah dan Ahmad Dahlan mengasah kepekaan muridnya untuk peka pada fenomena kemiskinan yang hampir marak dikalangan Umat Islam.

 Pengajian ini semakin lama semakin berkembang merambah sampai Lempuyangan, Karangkajen, dan Pakualaman. Karena pengajian dilakukan setelah Ashar, kegiatan ini kemudian dikenal dengan Wal ‘Ashri. Pengajian juga diperuntukkan bagi para buruh batik di Kauman yang merupakan kelompok terpinggir yang sulit mengakses pendidikan. Disamping belajar tentang agama, forum pengajian juga mengajarkan mereka cara menulis dan membaca. Pengajian ini dinamakan sebagai Maghribi School sesuai dengan jam diadakannya pengajian yaitu setelah magrib.

Wal ‘Ashri, Maghribi School, dan Sapa Tresna menjadi cikal bakal pergerakan Muhammadiyah-‘Aisyiyah dalam memperjuangkan kesetaraan bagi setiap kelompok manusia tanpa pandang kasta atau status sosialnya. Lama kelamaan, pengajian ini menyebar sampai ke pelosok Indonesia yang kemudian mendorong berdirinya perwakilan organisasi ‘Aisyiyah. 


Pada 1972, Siti Walidah bahkan melakukan kunjungan ke Batur Jawa, Tengah dengan menunggangi kuda melewati pegunungan Dieng. Fakta ini menunjukkan ketokohan Siti Walidah dalam perkembangan organisasi ‘Aisyiyah. Siti Walidah menjabat sebagai president HB Muhammadiyah bagian ‘Aisyiyah dari tahun 1921 yang kemudian berpindah status sebagai adviseur (penasehat) ‘Aisyiyah sejak tahun 1927.

Semasa aktif di ‘Aisyiyah, Siti Walidah dikenal sebagai tokoh perempuan yang memiliki pergaulan luas dan terlibat di ranah publik. Beliau bahkan pernah diundang dalam sidang Ulama Solo yang bertempat di Serambi Masjid Besar Keraton Surakarta yang notabene pesertanya adalah kaum laki-laki. Beliau juga berpidato dihadapan kongres pada kongres ‘Aisyiyah ke-15 yang berlangsung di Surabaya pada tahun 1926. Kongres ini kemudian diwartakan di beberapa harian Surabaya seperti Pewarta Surabaya dan Sin Tit Po yang memprovokasi kaum isteri Tionghoa agar berkemajuan seperti yang dipraktekkan warga ‘Aisyiyah. Kiprahnya di ‘Aisyiyah terus berlangsung puluhan tahun berikutnya. Terakhir kali beliau mengikuti kongres pada 1940 yang kala itu diadakan di Yogykarta. Beliau tetap mengikuti walau dalam keadaan sakit.

Tidak sampai setahun setelah beliau menyampaikan wasiat, tepatnya 31 Mei 1946 wafat menyusul suaminya. Pemerintah member gelar Pahlawan Nasional pada perempuan yang lebih dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan semasa hidupnya ini. Jasanya dalam melahirkan generasi perempuan untuk terlibat di ranah publik menjadi keteladanan yang tidak akan pernah lekang oleh waktu.

Alhamdulillah, sekarang ‘Aisyiyah semakin berkembang menjadi organisasi perempuan yang terus mencerdaskan bangsa. Amal usaha dari TK, Panti Asuhan, SD, Sekolah Tinggi dan Universitas terus tumbuh subur. Semoga akan lahir lagi Siti Walidah muda dari Sabang sampai Merauke. [opinibangsa.id / spc]


Terima Kasih sudah membaca, Jika artikel ini bermanfaat, Yuk bagikan ke orang terdekatmu. Berbagi informasi bermanfaat juga termasuk amal loh .... Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya @Tahukah.Anda.News


ADA BERITA MENARIK ! 
SCROLL KE BAWAH ! 


Sumber | republished by Yes Muslim - Portal Muslim Terupdate !

Inilah Kisah Politik Kekuasaan dan Penyebaran Islam di Pedalaman Jawa

Prod DR Hermanu Joebagio, lahir di Madiun, 3 Maret 1956. Dia adalah Guru Besar Sejarah Politik Islam Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Menyelesaikan program doktornya di UIN Sunan Kalijaga dengan disertasi bertajuk "Politik Islam di Kasunanan Surakarta" pada 2010.

Pada wawancara ini, Hermanu memaparkan fakta liatnya jaringan ulama di selatan (pedalaman) Jawa. Menurut dia, meski terus-menerus ditekan, misalnya dengan peristiwa pembantaian ulama semasa Raja Amangkurat I dan peristiwa kekalahan Pangeran Diponegoro, jaringan ini malah semakin solid dan kuat. Bahkan, semenjak dahulu jaringan ulama ini sudah terkoneksi dengan jaringan ulama internasional.

Wawancara ini (judull sebelumnya: [Mengalir Bersama Sungai Santri Bengawan Solo') kami muat kembali dengan masksud merespons perkembangan isu soal ke Islaman dan juga dengan maksud memberikan pencerahan kepada publik. Pesannya, penyebaran Islam di Nusantara itu jelas bukan hal mudah. Tantangan politik kekuasaan selalu hadir dan berkelindan. Bukan hanya itu, tantangan sosialnya juga bukanlah perkara gampang untuk ditundukan.
==============

Sebenarnya dari manakah asal usul jaringan ulama yang ada di selatan Jawa Tengah, atau yang memanjang dari Pacitan sampai Cilacap?




Menurut saya, asal jaringan itu berasal dari ‘satu pohon’, yakni bermula dari Maulana Malik Ibrahim (hidup pada masa awal Wali Songo sekitar abad 15 M) yang berada di Jawa Timur itu. Jadi, asal usul pemikiran pesantren berasal dari sana. Lalu, kemudian berkembang. Tapi, Islam di Jawa sudah ada sejak abad ke-10, 11 M (sedangkan Islam tiba di Sumatra sudah ada sejak abad ke-8 Masehi).

Tapi, patut diketahui Islam masuk ke Indonesia itu ada dalam dua versi. Pertama, versi Islam yang masuk ke Sumatra, dan satu versi lainnya masuk dari Campa ke Jawa. Inilah yang harus dipertimbangkan bahwa ketika Cina dan Campa masuk ke Jawa, Islam di Jawa mempunyai dua kultur, yakni kultur Arab, Cina, dan Jawa. Tiga kultur ini menjadi satu kesatuan dalam kehidupan masyarakat yang ada di pesisir selatan Jawa itu. Inilah yang harus dipahami dulu karena memang ada perbedaan masyarakat Jawa yang tinggal di pantai utara dan selatan tersebut.

Masyarakat Jawa yang tinggal di utara itu egalitarian dan kosmopolitan. Ini berbeda dengan yang di selatan. Nah, ketika Demak runtuh, masyarakat pun pindah ke pedalaman yang berada di selatan, yakni mendirikan kerajaan di Mataram Islam di Kota Gede. Jadi, ketika berada di sana, kultur Islam yang ada tidak lagi egaliter dan kosmopolitan, tetapi menuju masyarakat yang tertutup dan feodal.

Lalu jaringan ulamanya seperti apa?

Dari jaringan ulama yang tersebar itu adalah jaringan ulama yang berasal dari Giri (Sunan Giri) sebagai kelanjutan dari Maulana Malik Ibrahim tersebut. Dan kalau dibuka berbagai manuskrip,  terlihat bahwa jaringan ini pernah dihancurkan oleh Sunan Amangkurat I dan II. Namun, meski luluh lantak, jaringan ini ternyata tidak padam. Ulama yang berhasil lolos dari pembantaian itu kemudian pergi mengembara atau berkelana ke berbagai wilayah yang ada di selatan Jawa Tengah itu, seperti ke Purwokerto, Banyumas, Kedu Selatan, dan sekitarnya.

Nah, isi jaringan inilah yang tumbuh begitu kental dan sangat liat ketika menyebarkan Islam dan kemudian juga ketika mereka melawan penjajah Belanda. Selain itu, jaringan ini juga punya kecenderungan berani melawan raja atau penguasa yang pro-Belanda. Kalau sudah seperti itu, apa yang dikatakan Peter Carey itu benar bahwa bila semenjak dahulu itu Solo adalah pusat Islam.

Bukan hanya itu, orang-orang Yogyakarta ketika belajar Islam juga ke kota itu. Bahkan, Solo pernah punya raja yang sangat kuat Islamnya (sangat santri), yakni Paku Buwono IV. Raja ini pernah menginginkan menghapus perjanjian antara Paku Buwono III dan Belanda ketika ayahnya itu wafat. Nah, saat hendak membatalkan perjanjian itu, dia memanggil semua ulama yang selama ini berada dalam jaringan keraton. Jumlah ulama keraton ini banyak sekali. Mereka tersebar dan tinggal di sepanjang tepian Bengawan Solo. Namun, sayang usaha ini gagal.

Maka, kalau kita lihat dalam 'Babad Pakepung', di sana ada satu episode di mana para ulama itu harus dihancurkan oleh Hamengku Buwono I, Mangkunegoro I, dan oleh Belanda. Ajaran Islam dan jaringan ulama ditakuti karena dianggap berbahaya dalam konteks politik persaingan kekuasaan kolonial saat itu.

Apakah jaringan ulama itu juga membentuk berbagai pesantren?
Iya, memang begitu dari dulu ulama-ulama itu selalu membentuk pesantren-pesantren. Di sepanjang Sungai Bengawan Solo yang membentang serta bermuara di dekat Surabaya itu berdiri banyak sekali pesantren. Jadi, Sungai Bengawan Solo bisa dikatakan sungainya para santri. Nah, Paku Buwono IV sering belajar di berbagai pesantren tersebut. Misalnya, dia pernah ‘nyantri’ di Pesantren Bekonang. Sikap santri raja ini ditunjukkan dengan selalu memakai jubah putih ketika berada di keraton.

Namun, usaha yang dilakukan Paku Buwono IV menyatukan Mataram gagal. Dan, dia kemudian diminta Belanda membunuh enam ulama utama keraton. Ketika itu terjadi, dia merasa telah mengalami kegagalan total. Menyadari kekalahan itu, dia kemudian berpikir bahwa satu-satunya jalan agar di kemudian hari bisa mewujudkan cita-citanya, dia menyatakan harus mendirikan pesantren, yakni Pesantren Jamsaren yang letaknya di sebelah selatan Keraton Solo.

Jadi, di sini para raja semenjak dahulu selalu memainkan politik agama sebagai suatu kekuatan. Dan, ini tidak hanya dilakukan Pakubuwono IV, tapi juga pihak raja lain, seperti Mangkunegara II yang hidup sezaman dengannya (awal 1800 M). Dalam buku Catatan Harian Prajurit Wanita Jawa Mangkunegaran yang diterjemahkan Ann Kumar, diceritakan  kekecewaan orang Islam atas tragedi yang dialami Paku Buwono IV. Menurut catatan itu, para santri yang empati dan simpati kepada Raja Pakubuwono IV kemudian mengembara untuk menggalang kekuatan.

Tak hanya terjadi pada saat Paku Buwono IV bertakhta, tekanan terhadap jaringan ulama di selatan Jawa Tengah itu terus terjadi pada masa berikutnya. Contohnya, kemudian munculnya dalam Perang Jawa (1825-1830) tersebut. Juga pada masa Indonesia modern, yakni zaman Orde Baru, kekuatan ulama di Solo juga kembali ditekan. Situasi ini pun pada masa reformasi itu kemudian meledak menjadi kerusuhan.

Kalau begitu, jaringan ulama itu eksis mulai kapan?
Saya kira jaringan ulama di selatan Jawa itu eksis sejak Raja Amangkurat II menghancurkan semua pusat keilmuan yang ada di pesantren. Kesolidan ini makin bertambah setelah raja ini—dan kemudian disusul penggantinya—ingin melakukan proses sekularisasi. Sikap ini jelas berbeda sikap dengan leluhurnya, yakni Sultan Agung, yang justru selalu bersikap baik kepada para ulama. Dunia pesantren—terutama pesantren di Kajoran dan Tembayat—malah kemudian berkembang menjadi pusat kekuatan yang yang selalu berseberangan dengan keraton.

Jadi, sebenarnya kalau dilihat pusat-pusat pesantren di selatan Jawa, sejak zaman dahulu memang punya sejarah radikal. Itulah yang selalu menjadi problem hubungan Islam dan kekuasaan di Jawa (khususnya di Jawa Selatan). Semenjak dahulu kala sudah terfriksi dengan kekerasan atau konflik antara agama dan pihak penguasa.

Kalau begitu, bagaimanakah pesantren kemudian terus bisa eksis meski berkali-kali  dihancurkan oleh penguasa?
Melalui gerakan ‘bawah tanah’, terutama ketika mereka diberikan hak mengelola wilayah sendiri (tanah perdikan). Dan, di sini sebenarnya semenjak dahulu juga ketika terkait dengan politik kekuasan raja yang secara tersamar sebenarnya selalu membutuhkan kekuatan Islam atau ulama yang ada di berbagai pesantren. Jadi, atas jasa serta posisinya yang strategis, kemudian seorang ulama diberi tanah perdikan untuk memberikan suplai ekonomi kepada pesantrennya.

Namun, ketika kekuasaan itu mentok saat bernegoisasi dengan kekuatan ulama, pesantren itu dijadikan sasaran untuk dihancurkan. Namun di sini, bukan pihak raja yang langsung  meruntuhkannya, melainkan melalui tindakan militer oleh Belanda. Jadi, raja dalam soal ini memakai cara ‘nabok nyilih tangan’ (memukul dengan meminjam tangan orang lain—Red).

Bila melihat kenyataan ini, kerap ulama itu berusaha mencari situasi ekuilibrium politik agar mereka bisa tetap eksis. Dan, sebagai cara agar para raja dan ulama tetap bisa menjaga hubungan harmonis antarkeduanya,  munculah sosok mediator yang berasal dari para aristrokat (kaum bangsawan) yang pernah belajar di pesantren. Para aristokrat santri inilah yang kemudian menjadi pengurai masalah ketika muncul problem antara raja dan para ulama. Jadi, di sini kadang tercipta hubungan benci tapi rindu, ketika ada persoalan mereka bisa kompak, tapi ketika tak ada soal malah kerap berkonflik.

Bagaimana kemudian cara jaringan ulama terus membesar?
Para santri yang kemudian dianggap pintar dalam agama banyak yang direkrut pihak keraton dan kemudian diberi tanah perdikan untuk mendirikan pesantren. Di sana kemudian jaringan mereka terus menyebar secara luas. Misalnya, ulama Banyumas yang ada di bagian barat dari dulu sangat erat hubungannya dengan Keraton Solo (di samping juga ada juga pengaruh dari ulama Jawa Timur). Pengaruh ulama ini malah sangat mewarnai wajah kekuasaan keraton itu. Dan, jangan lupa pula jaringan penikahan antara putri raja dan putra ulama pesantren yang dari dulu sudah terjadi, semakin mengokohkan serta meluaskan pengaruh jaringan ulama itu.

Jadi, tak hanya para bangsawan yang punya darah biru, para ulama yang ada di wilayah selatan Jawa Tengah pun punya darah yang sama. Harap diketahui, Raja Paku Buwono I ibunya adalah orang pesantren. Begitu juga Raden Mas Mutahar (Pangeran Diponegoro) yang juga punya ibu dari anak seorang ulama berpengaruh. Di sini, selain terjadi kawin-mawin antaranak pesantren, anak kiai dengan santri, para ulama juga melakukan hubungan perkawinan dengan para keluarga raja. Hubungan ulama dan keraton ini terus berkelindan dan seiring berputarnya zaman kemudian memintal jaringan yang kuat.

Lalu kapan hubungan antara pesantren dan keraton terputus?
Yang memutus adalah kekuatan kolonial Belanda, seusai kekalahan Diponegoro dan munculnya era tanam paksa, hubungan itu merenggang. Pada saat yang sama, raja pun sebenarnya tak punya kekuatan politik yang signifikan lagi. Posisinya digantikan oleh para patih dan adipati yang merupakan wakil pemerintah kolonial Belanda.

Nah, ketika para bupati tersebut punya kekuatan politik, antaranak mereka saling melakukan hubungan perkawinan. Setelah era itu, yakni setelah tahun 1830 dan seiring dimulainya masa tanam paksa, tak ada lagi anak raja (bangsawan) yang menikahi anak ulama. Jadi tahun 1830 merupakan titik poin dari keruntuhan relasi antara dua kekuatan, yakni ulama (pesantren) dan raja (keraton). Dan, situasinya masih tegang sampai sekarang.

Kalau begitu, bisa dikatakan peran dan posisi politik bernilai penting dalam penegakan eksistensi jaringan ulama?
Memang demikian. Ini tecermin dari situasi sosial antara tahun 1830-1870 ketika terjadi situasi yang sangat kacau di Jawa. Bahkan, kekacauannya bisa disebut endemik. Selama kurun itu terjadi pemberontakan yang terus-menerus meski skalanya kecil. Dan, yang melakukannya adalah para santri di pesantren. Dan selama kurun itu, pihak yang menjadi mediator tumbuhnya konflik adalah para aristokrat (bangsawan) yang dulu pernah ditugaskan raja untuk belajar di pesantren.

Penyebaran pengaruh pesantren dan kaitannya dengan kekuasaan di Jawa itu bisa terlihat dalam Serat Centini. Di sana tersirat dengan jelas bahwa setelah penghancuran kekuatan ulama pada masa Raja Amangkurat, kekuatan ulama malah makin kuat dan luas, bukan malah melemah dan hilang.

Bagaimana dengan jaringan internasional yang ada di selatan Jawa Tengah itu, sebab di desa Somalangu Kebumen ada pesantren yang sudah sangat tua dan punya hubungan jaringan dengan Yaman dan Makassar?
Sejak peristiwa Palihan Negari tahun 1755, posisi Makkah mempunyai intervensi terhadap Islam Indonesia. Bila sebelum itu hubungan Makkah dan Islam di Jawa hanya sekadar relasi, mulai saat itu hubungan keduanya telah masuk secara sangat kuat dalam soal politik. Di situ karena Abd Al-Shammad Al Palimbani sudah mengirimkan surat untuk mengingatkan kepada Paku Buwono III, Hamengku Buwono I, dan Mangkunegoro I  agar ketiga raja ini melakukan ‘perang sabil’ melawan kekuasaan kolonial Belanda.

Jadi, fakta ini mengonfirmasi bahwa para mufti di Makkah saat itu sudah punya pikiran bahwa Belanda atau bangsa Eropa akan menghancurkan Islam. Dan, mulai saat itu tarekat mengalami proses radikalisasi sebagai sarana melawan kekuatan penjajah. Maka, dalam konteks politik tarekat tak mistik lagi, tapi menjadi sangat rasional.

Maka, bila di pesantren tua di Kebumen dikeahui sejak akhir 1400-an M punya relasi dengan dunia internasional, memang begitu keadaannya. Relasi internasional itu malah sifatnya kini sudah kuat sekali. Dan, jaringan itu terus berhubung satu sama lain, bahkan sampai detik ini ulama tetap terhubung dengan ulama-ulama bukan tak hanya Yaman, melainkan Arab Saudi, Mesir, Sudah, dan Maroko.

Apa risikonya?
Risikonya adalah mudah tersebarnya ideologi transnasional. Dan, ini susah dihentikan karena jalinan jaringannya sudah sangat lama dan mengakar. Maka untuk mencegahnya, haruslah datang dari kaum Muslim sendiri, yakni bagaimana menerapkan ajaran Islam secara kontekstual, bukan tekstual.

Pemerintah pun harus pula memberikan sarana dan perhatiannya. Jangan biarkan pesantren dan kaum Muslim terus hidup merana. Berdayakan mereka dan lepaskanlah dari kepenatan hidup serta kemiskinan. Bantulah pesantren sebaik mungkin.

Harus diakui, sampai kini di wilayah selatan Jawa Tengah itu saya melihat Islam sebagai kekuatan yang tidak pernah diberdayakan oleh negara. Bahkan, Islam kerap dimusuhi seperti pada zaman Soeharto yang lebih memilih mengakomodasi kekuatan militer dan Cina. 


Jika artikel ini bermanfaat, bagikan ke orang terdekatmu. Bagikan informasi bermanfaat juga termasuk amal ho.... Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya @Tahukah.Anda.News


Sumber | republished by Yes Muslim - Portal Muslim Terupdate !